Minggu, 23 Juli 2017

Kisah Pilu Mandala Krida, di Bulan Penuh Cinta

Februari seringkali disebut sebagai bulan penuh cinta. Namun, tidak bagi beberapa suporter sepakbola. Banyak tragedi yang melukai fisik, hingga hati mereka. Rangkaian kisa pilu itu, terjadi di Stadion kebanggaan masyarakat Yogyakarta, Mandala Krida.

Pada 14 Februari 1999 silam, Mandala Krida menjadi saksi bisu kericuhan suporter tanah air. Pertandingan kala itu mempertemukan kesebelasan PSIM Jogja dan Arema Malang, dalam lanjutan gelaran Divisi Utama Liga Indonesia. Dua klub besar, dengan basis suporter yang tak kalah besarnya, membuat pertandingan berlangsung seru. 

Namun, kurang tegasnya kepemimpinan wasit, sontak memicu amarah penonton hingga pertandingan harus beberapa kali dihentikan. Perkelahian antar pemain tidak dapat dihindari, bahkan salah satu pemain cadangan Arema sempat memukul rubuh official PSIM. Perkelahian massal pun akhirnya terjadi, aksi saling serang antar suporter tak bisa dihindari. 

Mandala Krida begitu mencekam, suasana panas tak mampu diredam. Akhirnya, suporter tuan rumah dikeluarkan terlebih dahulu, sementara Aremania terkurung di Mandala Krida, dalam suasana gelap gulita.

Sebelas tahun setelahnya, kejadian pahit kembali terulang, lagi-lagi di Mandala Krida. Gelaran Divisi Utama kali ini mempertemukan dua klub asal DIY, PSIM dan PSS Sleman. Laga yang berlangsung 12 Februari 2010 lalu itu, bisa dibilang merupakan pertandingan harga diri, dimana kedua kubu sama-sama ingin membuktikan harkatnya sebagai tim terbaik di tanah istimewa ini. 

Hubungan kurang harmonis antara kedua wadah suporter, memberikan warna tersendiri. Kala Brajamusti sedang asik bersorak dan bernyanyi guna memompa semangat pemain kebanggaannya, tiba-tiba tembakan gas air mata di arahkan aparat tepat di tengah-tengah mereka. Tanpa aba-aba, seluruhnya membubarkan diri, hingga masuk ke dalam lapangan. 

Pertandingan terpaksa dihentikan dan dilanjutkan keesokan harinya, dengan kemenangan untuk Laskar Mataram.

Dua tahun pasca tragedi gas air mata, atau tepatnya pada 3 Februari 2012 silam, Mandala Krida kembali menjadi saksi kericuhan suporter tanah air. Akan tetapi, uniknya, kericuhan kali ini tidak terjadi antara suporter PSIM dengan suporter lain, melainkan antara suporter Persija Jakarta dengan suporter Persiwa Wamena. 

Ya, kala itu, klub ibukota, Persija, meminjam Mandala Krida sebagai homebase sementara. Kericuhan yang terjadi, dipicu oleh ketidakpuasan suporter Persiwa, terhadap kepemimpinan wasit, setelah sang pengadil memberi kartu merah kepada pemainnya, karena dinilai handsball. Penalty akhirnya diberikan kepada Persija. Namun, ketika Bambang Pamungkas, yang kala itu menjabat sebagai kapten Persija, hendak melakukan eksekusi, beberapa suporter Persiwa nekat meloncat pagar pembatas dan mengejar wasit utama, beserta asistennya. 

Karena aksinya gagal, mereka melampiaskan amarah dengan mencoba memburu pemain Persija, yang dilanjutkan dengan menyerang tribun timur, tempat bernaungnya suporter klub berjuluk Macan Kemayoran itu.

Tidak berselang lama, atau pada tanggal 7 Februari 2012, kericuhan kembali terjadi di Mandala Krida. Kali ini antara suporter Persija dengan suporter Persipura. Kericuhan terjadi, kala suporter Persipura berlari ke arah suporter Persija. Setelahnya, terjadi aksi lempar batu antara kedua belah pihak. Suasana panas yang terjadi, tak mampu diredam aparat. 

Aksi saling bakar bendera kedua kelompok suporter tak terhindarkan lagi. Yang paling disesalkan adalah, banyak suporter yang jatuh pingsan, bahkan terluka akibat kejadian tersebut. Beberapa sudut stadion Mandala Krida saat itu juga tampak mengalami kerusakan.

Sekadar catatan, sekaligus penutup. Sejarah dipelajari, bukan untuk membuka luka lama, namun untuk memberikan kita pembelajaran hidup yang berharga. 

Suporter adalah nyawa bagi sebuah klub sepakbola. Apabila klub kebanggaan kita dicurangi, atau dihianati, dapat dipastikan, rasa sakit, hingga berujung dendam, sangatlah terasa menyesakkan.

Namun, membalas rasa sakit dan dendam dengan tindakan anarkis, jelas bukan  langkah tepat, karena cenderung merugikan klub kebanggaan. Semoga, di musim baru, dengan semangat yang baru pula, tidak ada lagi kericuhan yang dapat mencoreng dunia pesepakbolaan Indonesia.

Bagikan :