Liana Tasno menuturkan, PSIM kini serius membangun "pabrik" pemain masa depan yang beretika melalui Akademi Bintang Cendekia (ABC).

YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – Masa depan sepak bola Yogyakarta tidak hanya ditentukan oleh deretan trofi di lemari klub, tetapi juga oleh siapa yang akan merumput 5 hingga 10 tahun mendatang. Hal inilah yang menjadi sorotan utama Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, dalam forum audiensi “Guyub Sedulur” yang digelar di Monumen PSSI (Wisma PSIM), Kamis (15/1) malam.

Perempuan yang akrab disapa Liana ini menegaskan bahwa Laskar Mataram mengusung misi yang melampaui sekadar kemenangan di lapangan. PSIM kini serius membangun “pabrik” pemain masa depan yang beretika melalui Akademi Bintang Cendekia (ABC).

Menurut Liana, ABC PSIM bukan sekadar tempat berlatih menendang bola, melainkan wadah pendidikan karakter bagi talenta muda.

“Akademi Bintang Cendekia (ABC) berfokus pada kata ‘cendekia’ yang artinya terpelajar, terdidik, dan teredukasi. Visi kami membangun ABC PSIM adalah menjadikannya wadah bagi talenta muda yang bermimpi menjadi pesepak bola profesional,” ujarnya di hadapan para suporter.

Latar belakang Liana sebagai seorang akademisi sangat memengaruhi cara pandangnya dalam mengelola klub. Baginya, keterampilan (skill) olah bola hanyalah satu sisi mata uang; sisi lainnya adalah sikap (attitude) dan kecerdasan emosional.

Ia tidak menginginkan ABC PSIM melahirkan pemain yang hebat secara teknis, tetapi memiliki perilaku buruk atau bermain kasar.

“Karakter mereka harus terdidik dan baik. Jadi, tidak ada ‘sepak bola kungfu’,” candanya yang disambut tawa hadirin. “Karena latar belakang saya akademisi, saya memiliki passion besar dalam pengembangan karakter anak-anak muda ini. Bibit-bibit pesepakbola masa depan,” tambahnya.

Guna menanamkan mentalitas juara, manajemen PSIM juga menggelar workshop khusus bagi PSIM ABC. Tak tanggung-tanggung, pemain senior seperti Raka Cahyana, Khairul Fikri, dan Ghulam Fatkur dihadirkan untuk berbagi pengalaman.

Tujuannya jelas: memberikan contoh nyata bahwa kesuksesan lahir dari konsistensi, bukan jalan pintas.

“Pemain terbaik di ABC PSIM saat ini belum tentu menjadi yang terbaik dalam lima tahun ke depan. Namun, jika ia benar-benar konsisten, ia akan memetik hasilnya dalam 3 hingga 5 tahun mendatang,” tegas Liana.

Suporter Wajib Lindungi Mental Pemain Muda

Visi besar ini tentu membutuhkan napas panjang. Liana menyadari bahwa pembinaan usia dini adalah investasi jangka panjang, bukan cara instan meraih prestasi. Oleh karena itu, ia menitipkan pesan krusial kepada seluruh pendukung PSIM Jogja.

Ia meminta suporter untuk lebih bijak, terutama saat berkomentar di media sosial. Kritik yang kasar dan destruktif dinilai bisa menjadi racun yang mematikan motivasi para pemain muda yang mentalnya masih berkembang.

“Tolong teman-teman, ketika nanti mengomentari hasil (Elite Pro Academy/EPA) PSIM di media sosial, mohon lebih bijak. Mereka adalah bibit muda. Jika PSIM memang ada di hati kalian, maka generasi muda inilah yang harus kita dukung dan lindungi,” pinta Liana dengan nada serius.

Selain membahas visi ABC PSIM, forum Guyub Sedulur juga mendiskusikan target PSIM senior di BRI Super League 2025/2026. Forum ini sekaligus menjadi ajang komunikasi dua arah antara manajemen dengan suporter Brajamusti dan The Maident terkait keamanan dan kenyamanan setiap kali Laskar Mataram bertanding di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *