Menyikapi aspirasi publik terkait alokasi tiket yang dinilai terbatas dan sulit diakses oleh penonton umum, Panitia Pelaksana (Panpel) Laskar Mataram memberikan penjelasan resmi.

YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – Antusiasme tinggi mengiringi persiapan laga besar (big match) antara PSIM Jogja vs Persebaya Surabaya. Pertandingan lanjutan BRI Super League 2025/26 pekan ke-18 ini dijadwalkan berlangsung di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Yogyakarta, pada Minggu (25/1) pukul 15.30 WIB.

Menyikapi aspirasi publik terkait alokasi tiket yang dinilai terbatas dan sulit diakses oleh penonton umum, Panitia Pelaksana (Panpel) Laskar Mataram memberikan penjelasan resmi.

Ketua Panpel PSIM Jogja, Wendy Umar Seno Aji, menegaskan bahwa seluruh kebijakan alokasi tiket dalam setiap pertandingan didasarkan pada pertimbangan matang. Hal ini mengacu pada rekomendasi keamanan, hasil penilaian risiko (risk assessment) ketat dari pihak kepolisian setiap sebelum laga, serta regulasi iLeague.

“Langkah ini diambil semata-mata demi menjaga kondusivitas pertandingan dan keamanan seluruh pihak yang hadir di SSA, serta lingkungan sekitar stadion,” tutur Wendy pada Sabtu (24/1) pagi.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), kuota tiket yang diizinkan untuk laga PSIM vs Persebaya ditetapkan sebanyak 8.000 penonton. Angka ini merupakan batas aman yang direkomendasikan untuk menjamin kelancaran alur keluar-masuk serta pengendalian massa (crowd control).

“Kami memohon maaf kepada teman-teman atas ketidaknyamanan ini. Kami memahami kekecewaan suporter yang tidak kebagian tiket, tapi prioritas kami adalah safety first,” ujar Wendy.

Alokasi Tiket Fokus pada Wadah Suporter

Terkait keluhan mengenai akses tiket bagi penonton umum, Wendy menjelaskan bahwa strategi distribusi kali ini memang difokuskan melalui wadah suporter resmi, yakni Brajamusti dan The Maident. Kebijakan ini diterapkan untuk mempermudah koordinasi pengamanan serta identifikasi penonton di lapangan.

“Dengan distribusi melalui wadah komunitas, koordinasi di lapangan menjadi lebih terstruktur. Ini adalah bentuk mitigasi risiko demi kondusivitas pertandingan,” tambahnya.

Sebagai penutup, Wendy menegaskan bahwa kuota dan metode distribusi tiket pertandingan kandang PSIM di SSA bersifat dinamis atau tidak selalu sama. Kebijakan ini bergantung pada analisis risiko yang disepakati oleh pihak terkait untuk setiap laga.

Meski demikian, Panpel Laskar Mataram tetap terbuka menerima kritik dan saran, baik dari suporter umum maupun wadah suporter, demi perbaikan penyelenggaraan kompetisi sepak bola nasional ke depannya.

“Tanpa ke stadion, dukungan dari rumah tetap bermakna. Mari kita jaga kondusivitas bersama,” pungkasnya.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *