PSIM Jogja kembali menyelenggarakan edisi perdana program edukatif bertajuk PSIM Goes to Campus Chapter UGM pada Selasa (24/2).

YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.IDPSIM Jogja kembali menyelenggarakan edisi perdana program edukatif bertajuk PSIM Goes to Campus di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada Selasa (24/2). Acara yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM ini mengajak para mahasiswa mendiskusikan berbagai prospek karier menjanjikan dalam manajemen sepak bola profesional.

Manajemen Laskar Mataram merealisasikan agenda luar biasa ini melalui kolaborasi bersama mitra internasional, seperti National Football League (NFL), The United States Department of State Bureau of Educational and Cultural Affairs, inisiatif Sport and Peace, dan Program Global Sports Mentoring Program.

Goes to Campus Chapter UGM ini juga didukung oleh beberapa pihak yang turut menyukseskan acara, yakni Lapakgaming, Adem Sari, Plossa, Soffell, Rexona, Taro, Le Minerale, Hokben.

Direktur Utama PSIM Jogja, Liana Tasno hadir langsung memberikan wawasan berharga dari kacamata pengalaman pribadinya selama memimpin operasional klub. Pemimpin perempuan pertama Laskar Mataram tersebut membagikan kisah inspiratif mengenai perjuangan keras menembus batas industri sarat dominasi pekerja laki-laki ini.

“Dulu saya sering menghadapi diskriminasi gender saat tumbuh sebagai pencinta olahraga di negeri ini. Kini misi utama saya adalah membangun jembatan emas agar bangsa kita bisa mencapai potensi maksimalnya di dunia olahraga,” ungkap Liana.

Tantangan Nyata Ekosistem Olahraga

Sang direktur memaparkan perlunya optimalisasi dukungan berkesinambungan dari seluruh barisan pemangku kepentingan guna mempercepat kemajuan klub. Penyelarasan proses struktural serta regulasi kebijakan di tingkat nasional sangat dibutuhkan demi menciptakan iklim industri sepak bola yang sehat.

“Ekosistem olahraga kita masih berjuang terus berjuang untuk bisa memberikan fasilitas yang layak dan merata. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari seluruh pihak,” tuturnya.

Minimnya jumlah praktisi teredukasi membuat lini manajemen olahraga belum terlihat sebagai pilihan profesi bergengsi. Mahasiswa harus mulai menyadari hal ini sebagai sebuah potensi dan peluang karier sejak duduk di bangku kuliah.

“Masa depan olahraga nasional baru akan bersinar saat ada orang berani menunjukkan dan membuka jalan. Saya sangat ingin mengubah kondisi tersebut melalui beragam langkah edukasi berkelanjutan,” jelas Liana.

Ia juga menambahkan, “Mahasiswa harus mulai sadar dan bisa melihat, bagaimana setiap bidang bisa memberikan peluang karier yang menjanjikan di masa depan, termasuk olahraga.”

Kunjungan kampus perdana ini turut menghadirkan perwakilan manajemen klub seperti General Manager Steven Sunny beserta Commercial Manager Halifa Difa. Rangkaian acara sore itu ditutup dengan pesan dari Liana untuk para mahasiswa yang hadir.

“Negeri ini membutuhkan lebih banyak tenaga profesional berbekal kelengkapan pendidikan keterampilan yang mumpuni. Kalian harus memiliki pola pikir kepemimpinan dengan menjunjung tinggi nilai integritas di atas segalanya,” pungkas Liana.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *