Kiper PSIM, Cahya Supriadi tampil luar biasa sepanjang 90 menit dengan mematahkan sejumlah peluang emas lawan.

YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – PSIM Jogja sukses mengamankan tiga poin krusial di kandang usai menundukkan Bhayangkara Presisi Lampung FC dengan skor tipis 1-0. Laga sengit tersebut berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada Sabtu (22/11).

Meski gol tunggal Rahmatsho Rahmatzoda pada menit ke-38 menjadi penentu kemenangan Laskar Mataram, sorotan utama justru tertuju pada performa gemilang di bawah mistar gawang. Kiper PSIM, Cahya Supriadi tampil luar biasa sepanjang 90 menit dengan mematahkan sejumlah peluang emas lawan.

Berkat aksi heroiknya, kiper kelahiran 11 Februari 2003 ini kembali dinobatkan sebagai Man of The Match (MoTM). Ini merupakan gelar MoTM ketiga bagi Cahya musim ini, setelah sebelumnya ia raih pada laga kontra Persib (24/8) dan PSM Makassar (27/9).

Kepiawaian Cahya mengawal gawang tak hanya mengundang decak kagum suporter. Ia juga mendapat pengakuan khusus dari dua pelatih asing yang saling berhadapan, Jean-Paul Van Gastel (PSIM) dan Paul Munster (Bhayangkara).

Kunci Kemenangan Laskar Mataram

Dalam sesi konferensi pers pasca-laga, kedua juru taktik tersebut sepakat menunjuk Cahya sebagai sosok pembeda di lapangan.

Pelatih Kepala PSIM, Jean-Paul Van Gastel, tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap kiper mudanya itu.

“Para pemain lawan tampil bagus, namun kiper kami, Cahya Supriadi, bermain sangat luar biasa dengan banyak penyelamatan krusial,” ujar Van Gastel.

Ia menegaskan bahwa kontribusi Cahya sangat vital dalam menjaga keunggulan tim. “Saya sangat puas dengan penampilannya. Dia berhasil menggagalkan banyak peluang emas Bhayangkara,” tegasnya.

Senada dengan Van Gastel, Pelatih Kepala Bhayangkara, Paul Munster, juga memberikan apresiasi tinggi. Meski timnya kalah, Munster mengakui ketangguhan Cahya menjadi tembok penghalang terbesar bagi Bhayangkara.

“Di babak kedua, kami terus menekan dan punya banyak peluang untuk mencetak gol. Menurut saya, pemain terbaik di laga ini adalah kiper mereka,” tuturnya.

Paul Munster menilai timnya sudah bermain baik dan berjuang hingga akhir, tetapi penyelesaian akhir mereka selalu mentah di tangan Cahya.

“Saya tidak bisa menyalahkan usaha para pemain, semua berjuang sampai akhir. Kami punya banyak peluang, hanya saja eksekusinya terkendala karena kiper mereka (PSIM) melakukan penyelamatan yang hebat,” jelasnya.

Saking terkesannya, Paul Munster bahkan menegaskan kembali opininya di akhir sesi jumpa pers.

“Sekali lagi, bagi saya, kiper mereka adalah pemain terbaik,” pungkasnya.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *