
YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – Sudah sembilan puluh tujuh tahun gemuruh tribun mengiringi langkah Laskar Mataram. Bagi warga Yogyakarta, PSIM jelas bukan sekadar klub sepak bola. Klub ini adalah harga diri. Tim yang lahir pada 5 September 1929 ini melekat kuat menjadi identitas kultural lintas generasi. Kini, kelompok suporter setia merayakan usia baru tim kebanggaan mereka, seiring antusiasme menyambut bergulirnya kompetisi Super League 2026/2027.
Dukungan suporter mengalir nyaris tanpa pamrih. Ketua Umum The Maident, Rendy Agung Prasetyo, punya prinsip tersendiri tentang cara mengawal klub. “Menang kita rayakan, kalah kita kawal, terpuruk kita bangkitkan, dan berjaya kita syukuri bersama,” tuturnya.
Buat para suporter, hadir di stadion adalah wujud nyata rasa memiliki. Pertandingan ibarat candu. Sepak bola jadi jalan keluar untuk melepas lelah setelah sepekan sibuk bekerja.
Ujian Kesetiaan di Kasta Kedua
Kesetiaan ini nyatanya tidak datang secara instan. Suporter Laskar Mataram pernah melewati masa kelam saat tim masih berjuang di kasta kedua. Momen tersulit itu justru menguji ketahanan cinta mereka terhadap klub.
“Cinta tanpa syarat itu teruji saat kita tetap mengawal PSIM tanpa memedulikan hasil akhir, karena yang kita cintai adalah lambang Laskar Mataram di dada,” ungkap Presiden Brajamusti, R. M. Satrio Wijayanto, mengingat kembali beratnya masa sanksi pengurangan sembilan poin pada 2018 silam.
Berdiri dan bernyanyi bersama puluhan ribu orang di stadion seolah membasuh penat rutinitas harian. Atmosfer kebersamaan ini terus menjaga semangat dukungan tetap menyala.
“Semangat di tribun itu tidak pernah padam karena PSIM sudah menjadi bagian dari identitas, kebanggaan, dan warisan turun-temurun warga Jogja,” ungkap Satrio bercerita.
Tribun stadion kini bukan lagi sekadar deretan tempat duduk penonton. Ruang tersebut telah beralih menjadi rumah persaudaraan. Tempat berkumpulnya orang-orang yang menuntaskan rindu melihat jersei biru berlaga di level elite.
Harapan Bersama Menatap Musim Baru
Mendekati usia satu abad, ekspektasi suporter makin besar. Mereka ingin manajemen dan pelatih saling merangkul menyatukan visi. Musim kompetisi 2026/2027 sudah di depan mata. Waktunya bekerja ekstra. Satrio mengingatkan pengurus klub agar senantiasa meramu langkah nyata dengan sepenuh hati.
Dukungan penuh dari atas tribun sudah pasti terjamin. Namun, suporter juga meminta timbal balik berupa keseriusan di lapangan. “Kami juga menuntut komitmen dan kerja keras 100 persen dari manajemen dan pelatih di luar maupun di dalam lapangan,” tambah sang Presiden Brajamusti.
Pesan senada dititipkan oleh The Maident. Rendy mengibaratkan merawat klub layaknya menjaga keluarga sendiri. Ia menaruh target realistis agar Laskar Mataram konsisten menembus peringkat sepuluh besar musim ini.
“Tolong jangan kecewakan kami. Berikan yang terbaik untuk musim ini dan selanjutnya,” ungkap Rendy penuh harap.
Ia hanya meminta seluruh pemain bertarung maksimal di atas rumput hijau. “Satu hal yang kami minta, jangan pernah berhenti berjuang. Untuk para pemain, jangan pernah merasa sendiri. Kami selalu ada bersama dengan kalian,” serunya.
Permintaan yang sama juga ditegaskan oleh Brajamusti untuk menutup pesan mereka kepada tim. “Mainlah dengan hati, dengan daya juang tinggi, dan tumpahkan seluruh kemampuan kalian di setiap pertandingan.”
