
YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – PSIM Jogja genap menginjak usia ke-97 tahun pada Sabtu (5/9/2026). Momentum pertambahan umur ini dirayakan manajemen Laskar Mataram dengan merefleksikan kembali perjalanan panjang sejarah klub.
Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno, menegaskan rasa bangga terhadap eksistensi tim kebanggaan masyarakat Kota Yogyakarta. Pihaknya memandang usia menjelang satu abad ini menyimpan nilai historis mendalam bagi kancah sepak bola nasional.
“Makna usia ke-97 PSIM itu sudah pasti luar biasa karena nilai historisnya sangat kaya. Saya selalu mengatakan di media mana pun bahwa saya sangat bangga dengan PSIM. Klub yang diamanahkan oleh Tuhan kepada saya ini memiliki nilai sejarah tinggi dan sangat membanggakan,” tutur sosok yang akrab disapa Liana tersebut.
Konsistensi Merawat Akar Budaya Yogyakarta
Liana menerangkan bahwa ikatan historis tim berakar kuat sebagai salah satu pendiri PSSI. Rekam jejak tersebut kian nyata lewat sejarah kantor klub yang sempat difungsikan pada masa awal pembentukan federasi.
“Selain nilai sejarahnya yang kuat, kami merupakan salah satu pendiri PSSI. Kantor kami di Yogyakarta pun merupakan kantor yang digunakan oleh PSSI saat menggelar kongres untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, kami memiliki slogan bertajuk Honor the Legacy,” jelasnya.
Memasuki fase menuju usia seabad, manajemen terus berupaya mendekatkan entitas klub kepada akar kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah tersebut diharapkan mampu membawa keistimewaan tradisi lokal berkiprah di kancah nasional.
“Perjalanan PSIM menuju usia ke-100 tahun diiringi slogan Honor the Legacy untuk mengingatkan kami agar senantiasa menjaga tradisi serta warisan kebudayaan Yogyakarta. Bagaimanapun, PSIM adalah bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang kaya akan budaya,” ungkap Liana.
Penerapan semangat tersebut diwujudkan secara konsisten melalui agenda rutin tim sebelum mengarungi kompetisi resmi setiap musimnya.
“Kami mengimplementasikan Honor the Legacy lewat pelestarian tradisi sejak awal musim bergulir. Sejak dahulu, kami tidak pernah melewatkan tradisi berziarah ke Imogiri serta berkunjung ke Keraton Yogyakarta untuk memohon doa restu kepada Ngarsa Dalem,” paparnya.
Selain melalui tradisi, manajemen Laskar Mataram juga memadukan identitas kedaerahan ke dalam lini produk komersial tim.
“Kami turut mengimplementasikan unsur kebudayaan tersebut ke ranah komersial, baik melalui konten media sosial maupun desain produk resmi, termasuk motif batik parang yang kami sematkan pada jersei tim,” pungkas Liana.
