Hanya semusim bermain di PSIM Jogja, Muhamat Ansori tetap mengingat momennya bersama Laskar Mataram. Ansori memutuskan untuk membela PSIM Jogja di musim 2007 setelah satu dekade bersama tim tetangga. Musim 2007 sendiri merupakan musim yang cukup berat bagi tim-tim asal DIY. Pasalnya setelah kejadian gempa 2006, seluruh tim sepak bola asal DIY mengundurkan diri dari kompetisi. Berikut hasil wawancara bersama M. Ansori, putra asli DIY:

Halo, Muhamat Ansori, sekarang kesibukannya apa?

Saya kerja di Dinas PU DIY, tapi masih tenaga bantuan. Dinasnya di Bantul, di pengolahan limbah.

Setelah 10 tahun membela PSS, kenapa memutuskan untuk hijrah ke PSIM Jogja?

Pada waktu itu prioritas utama memang yang di Jogja dahulu. Kebetulan waktu itu sebelum memutuskan ke PSIM ada tawaran juga dari Arema juga. Tetap milih yang dekat rumah dahulu karena istri saya juga sedang hamil anak kedua. Meskipun sebenarnya masih dapat tawaran juga dari PSS.

Saat bergabung dengan Laskar Mataram, ada siapa saja waktu itu?

Dulu main bersama Ony, Prasetyo, Seto, Donny, sama Abda Ali. Untuk asingnya ada Adolfo dan Jimi.

Bergabung dengan PSIM Jogja setelah kejadian gempa Jogja, bagaimana target tim pada musim itu?

Kalau target sebetulnya ingin masuk 5 besar, tapi dengan berjalannya kompetisi bisa melihat dan meraba-raba nanti akhirnya mau bagaimana. Kalau kemarin habis kita kena musibah itu kebanyakan kalau yang di Jogja bisa bertahan dulu. Karena kita habis kena musibah itu dari segi biaya juga terkuras.

Akhirnya ya di musim itu PSIM tetap di Divisi Utama, tidak masuk ke Liga Super (ISL). Karena sebenarnya kan musim selanjutnya beberapa peringkat teratas masuk ke ISL.

Apa momen yang paling membekas bersama para pemain lain?

Saya dulu ngelaju, jadi tinggal di rumah tidak di mes. Meskipun saya dulu tidak tinggal di mes, saya tetap sering main ke sana. Apalagi kalau mau tanding, karena emang harus ke mes dulu. Kita kalau di mes sering main bareng-bareng, entah cuma main kartu, nanti coret-coretan.

Hanya bermain untuk Laskar Mataram selama semusim, apakah cukup dekat dengan para suporter PSIM Jogja?

Saya merasa dekat dengan suporter. Bagaimana pun juga, PSIM kan jelas suporternya asli Jogja dan saya juga asli Jogja. Secara tidak langsung merasa memiliki juga. Apalagi PSIM kan klub tertua di Jogja, bahkan di Indonesia salah satu tertua. Maka saya sebagai orang yang asli Jogja masih ada rasa memiliki.

Apa momen yang berkesan bersama para suporter?

Kalau momen yang berkesan di lapangan sebenarnya malah negatif hehe. Kita dulu pas main di kandang dan kebetulan kita kalah. Kita kalah 0-1, suporter protes marah. Waktu itu ya pemain posisi capek juga habis main, jadi kepancing emosi juga. Hanya ricuh kecil saja. Hanya luapan kekecewaan suporter saja.

Tapi saya tetap salut dengan para pendukung PSIM. Meski hasilnya tidak begitu baik, mereka tetap setia mendukung. Buktinya selama itu masih di Jawa, suporter banyak yang datang. Ramai.

Kenapa hanya satu musim dengan PSIM Jogja? Setelah itu ke mana?

Sebenarnya musim berikutnya sudah ditawari juga, tapi karena memang tidak ada kesepakatan jadi tidak lanjut. Setelah dari PSIM ikut Bang Dananjaya ke Sumatra. Kita ke Tembilahan, Riau. Waktu itu timnya di Divisi Satu. Terakhir saya di Bantul dua musim. Jadi di Jogja tuh sudah sah lah semua tim.

Apakah masih berinteraksi dengan para mantan penggawa PSIM Jogja yang lain?

Kita masih sering main bareng, karena memang ada grupnya. Kadang kita ada agenda PSIM Legend main lawan siapa gitu.

Apa pesan untuk PSIM Jogja ke depannya?

Kalau dari saya sih harapannya bisa naik ke Liga 1. Soalnya bagaimanapun PSIM punya nama besar, sayang rasanya kalau tidak naik ke Liga 1.

Share this :
admin
March 4, 2024
Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *