
YOGYAKARTA, PSIMJOGJA.ID – Laskar Mataram berhasil curi poin penuh atas PSBS Biak dalam laga tandang Jumat (27/2) malam. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo ini berakhir dengan skor 2-4.
Jalannya Pertandingan
Laga dimulai dengan intensitas tinggi melalui skema high pressing yang diterapkan punggawa Laskar Mataram. Penguasaan bola PSIM membuahkan hasil manis lewat sundulan Franco Ramos pada menit ke-14 dan membuka keunggulan untuk PSIM.
Tuan rumah Biak merespons ketertinggalan dengan meningkatkan agresivitas serangan ke lini pertahanan kami. Cahya Supriadi sempat melakukan penyelamatan gemilang,sebelum akhirnya gawang PSIM bobol di menit ke-36 oleh Eduardo Barbosa. Kedudukan 1-1 bertahan sampai turun minum.
Memasuki babak kedua, PSIM tampil lebih berani dan melancarkan banyak serangan ke lini pertahanan Biak. Franco mencetak brace gol pada menit ke-64 dan menambah keunggulan untuk tim.
Laskar Mataram tampil makin intens dan menambah keunggulan melalui gol Ze Valente menit ke-69. Biak sempat memperkecil ketertinggalan pada menit 82′ lewat gol Ruvery Alfonso. Tak berselang lama, PSIM mengukuhkan kemenangan lewat brace gol Ze pada menit ke-89 dan skor berakhir 2-4.
Beberapa Evaluasi dari Pelatih
Meski berhasil meraih kemenangan, Van Gastel telah mengantongi beberapa catatan untuk timnya setelah laga tadi malam.
“Saya pikir di babak pertama dalam penguasaan bola kami tidak bermain sebaik biasa. Kami tidak memegang kendali,” ujarnya.
Pelatih memotivasi para pemain saat turun minum agar tim bisa segera bangkit. Strategi ini terbukti efektif memperbaiki ritme permainan tim pada paruh kedua.
“Di babak kedua kami berbicara tentang apa telah kami lakukan selama 22 pertandingan. Saya pikir di babak kedua dalam penguasaan bola kami sudah bermain cukup baik,” tegasnya.
Evaluasi tim pelatih selanjutnya tertuju pada lini pertahanan akibat terlalu gampang kebobolan. Menurutnya, situasi tertinggal lebih dulu membuang banyak tenaga fisik pemain di atas lapangan hijau.
“Kami harus melakukan lebih baik untuk membuat pertandingan agar bisa dimenangkan dengan lebih mudah. Ini memakan terlalu banyak energi tidak perlu untuk memenangkan laga,” imbuh sang pelatih.
Padatnya Jadwal Kompetisi
Selain evaluasi di atas, padatnya jadwal kalender liga turut menjadi sorotan dari tim pelatih.
“Mengenai waktu persiapan yang singkat untuk pertandingan berikutnya, Anda benar. Jika melihat program liga ini, jadwalnya tidak konsisten. Kadang ada jarak sembilan hari, sepuluh hari, atau tujuh hari. Lalu tiba-tiba jadwal menjadi sangat padat,” ungkapnya.
Jarak antarpertandingan yang tidak konsisten dirasa cukup menyulitkan bagi pemain yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan untuk melakukan pemulihan kebugaran fisiknya.
“Saya memang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadan, tetapi bayangkan jika Anda berpuasa, sementara Anda harus tetap bertanding dan berlatih dengan intensitas tinggi. Bagi seorang atlet, sangat sulit untuk bisa tampil maksimal dalam kondisi seperti itu,” pungkas Van Gastel.
